Jika mahasiswa bertanya, mengapa merupakan bilangan pokok dari logaritma
alami, maka umumnya kita berfikir bahwa mempunyai sifat yang luar biasa
yang berkaitan sifat fungsi dan inversnya
. Kedua fungsi mempunyai sifat luar biasa dalam penurunan fungsi maupun integral. Khususnya, turunan fungsi
dan
, masing-masing adalah
dan
. Rumus ini menjadi lebih sederhana jika
.
Tetapi kalau kita menyelidiki lebih jauh tentang cara menghitung logaritma, maka kita menyadari bahwa memang merupakan bilangan pokok logaritma alami, tidak hanya karena sifat penurunan fungsi logaritma dan eksponen melainkan juga berkaitan dengan perhitungan logaritma. Oleh karena itu penulisan
sering diartikan sebagai logaritma natural, tetapi juga sebagai logaritma Napier (1550 — 4 April 1617, http://en.wikipedia.org/wiki/John_Napier) yang menemukan hal ini. Catatan ini mencoba mengungkapkan hal tersebut.
Di Sekolah Menengah Atas kita sudah belajar tentang logaritma, yaitu
penulisan bilangan berpangkat ditulis sebagai
.
Dengan logaritma, menghitung perkalian diubah menjadi penjumlahan, tetapi
disertai dengan daftar logaritma. Di sekolah menengah, umumnya bilangan
pokok yang diambil adalah sesuai dengan sistem bilangan yang dipakai,
yaitu sistem puluhan. Dengan bilangan pokok tersebut, bilangan yang mudah dihitung
logaritmanya adalah yang masing-masing mempunyai nilai
Tetapi banyak sekali bilangan yang tidak mudah dihitung
logaritmanya, misalkan ,
,
dan masih
banyak bilangan di antara dan
yang tidak mudah dihitung nilai
logaritmanya.
Untuk menghitung , kita harus menghitung pangkat dari
sehingga memberikan hasil sama dengan . Hal ini tidak mudah karena hasilnya adalah bilangan pecahan atau bahkan irasional. Tentu sangat sulit.
Perhitungan akan lebih mudah jika hanya sekedar menghitung dengan
perkalian atau pangkat dengan bilangan asli, bukan mencari pangkat seperti
di atas. Oleh karena itu John Napier (1550-1617) mengusulkan bilangan pokok,
disekitar 1 sehingga logaritma dari suatu bilangan dapat dicari dengan perkalian dari bilangan pokok tersebut. Misalkan bilangan pokok diambil , maka dengan
menghitung pangkat dari bilangan tersebut diperoleh
;
;
;
dan seterusnya.
Sekarang, misalkan kita menginginkan nilai logaritma dari , maka kita
harus mencari sehingga
. Dalam hal ini
;
.
Berdasarkan hasil ini ternyata bukan merupakan bilangan bulat. Jika kita
menggunakan penghampiran linear. Karena dan
, dengan menentukan persamaan garis melalui
dan
, dan menghitung nilai di
, maka kita memperoleh nilai
. (Pada grafik, garis
dan grafik logaritma tersebut berimpit).
Dengan bilangan pokok tersebut, nilai logaritma yang diperoleh sangat besar. Agar hasil logaritma cukup kecil, seperti halnya dengan bilangan pokok , kita membagi hasil tersebut dengan
. Hasilnya
Ternyata, agar hasil logaritma kurang dari
, maka bilangan pokok logaritma
tersebut haruslah .
Dengan menggunakan bilangan pokok tersebut, masih banyak bilangan yang tidak
dapat dihitung nilai logaritmanya, misalkan saja ;
; dan
bilangan lain yang lebih kecil dari . Oleh karena itu perlu dicoba bilangan pokok
yang lebih kecil lagi, misalkan . Dengan menghitung
berkali-kali, maka diperoleh
Sekali lagi dengan penghampiran linear, kita akan memperoleh . Sekali lagi, hasil ini terlalu besar. Dengan melakukan
hal yang sama dengan sebelumnya, maka akan diperoleh
yaitu menggunakan bilangan pokok .
Proses di atas, secara teori tentu dapat diperumum sehingga bilangan pokok
logaritma diambil
dengan sangat besar. Kita mengetahui bahwa
dan bilangan inilah yang dipakai sebagai bilangan pokok.
Tentu saja dalam perhitungan, kita tidak memerlukan sampai dengan .
Untuk menghitung benar sampai dua angka, kita cukup menghitung
dengan bilangan pokok atau
. Sebagai catatan
Sehingga sudah merupakan angka yang tidak akan berubah lagi.
Persoalannya sekarang bagaimana menghitung apakah harus
mengalikan kali? Bisa lebih cepat?
Cara yang lebih sederhana dengan menghitung ,
,
,
,
, dan seterusnya.
Apa bilangan itu?
Untuk , nilai dari
Untuk , nilai dari
karena .
Nilai ini memenuhi
Tetapi bilangan ini merupakan bilangan irasional. Hal ini dapat dilihat
dengan cara kontradiksi. Misalkan merupakan bilangan rasional, misalkan
dengan
, maka
Dengan mengalikan pada kedua ruas, maka
Ruas kiri merupakan bilangan bulat, demikian pula suku pertama di ruas kanan,
tetapi suku kedua di ruas kanan lebih kecil dari :
Hal ini kontradiksi dengan kesamaan antara bilangan bulat.
Sebagai catatan: saat ini untuk menghitung nilai
dengan menghampiri luas daerah berikut%

dan dapat dihitung sebagai melalui penghampiran luas berikut%



Leave a reply to tedjo Cancel reply